Ini Dia Suri Tauladan Para Khulafaur Rasyidin

Agama  
Editor: Yaya

Menilik asal kata dari khalifah yakni dalam bahasa Arab, kata khalifah itu dari khalafa-yakhlufu-khalfan-khilafatan, yang memiliki arti pergantian. Sederhananya, khalifah itu bermakna pengganti. Selain pengganti, kata khalifah juga bisa diartikan belakang, perubahan, atau suksesi.

Dengan demikian, siapa pun yang menggantikan posisi orang lain, guna menjalankan suatu fungsi tertentu, maka ia bisa dipanggil dengan khalifah. Sebab makna dasarnya adalah penganti. Dalam konteks ini, Abu Bakar dipanggil dengan khalifah Rasulullah, sebab ia pengganti Rasulullah dalam memimpin umat. Pun Umar digelar dengan khalifah khalifatu Rasulullah—pengganti, pengganti khalifah Rasulullah, sebab ia menggantikan Abu Bakar.

Pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, umat Islam dihadapkan pada kepemimpinan para sahabat terdekatnya. Melalui musyawarah mufakat yang sangat demokratis, umat Islam melalui sistem yang disebut Ahlul Halli wal Aqdi secara berturut-turut mengangkat dan membaiat Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Era tersebut dinamakan Khulafaur Rasyidin.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Kepimpinan Khulafaur Rasyidin kurang lebih berlangsung selama 30 Tahun, bukan tanpa arti dan makna, namun kepimpinan Khulafaur Rasyidin meninggalkan suri tauladan yang dapat kita teladani.

Apa saja suri tauladan yang dapat kita petik?

1)      Gemar Bermusyawarah untuk menyelasaikan masalah

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ مَشُوْرَةٍ لِاَصْحَابِهِ مِنْ رَسُوْلِ الله صلّى الله عليه و سلم

“Saya tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak bermusyawarah dengan para sahabatnya dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“. (HR. Tirmidzi)

Dalam hidup ini kita tak mungkin lepas dari perbedaan pendapat, dan musyawarah merupakan salah satu mekanisme untuk mencairkan perselisihan pandangan agar tak sampai merusak kebersamaan.

Hal lain yang perlu dicatat adalah, musyawarah bermanfaat untuk mencapai pada pilihan pendapat terbaik. Dengan saling mengisi kekurangan, saling memberi masukan, potensi untuk terjerumus kepada pilihan pendapat terburuk akan terminimalisasi. Risiko terberat sedapat mungkin bisa dihindarkan.

2)      Hidup Sederhana dan Mengedepankan Ketaqwaan

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه ) حديث حسن رواه الترمذي وغيره

“Salah satu tanda kesempunaan islamnya seseb orang adalah meninggalkan segala yang dinilai tidak perlu“.

Ketika kita mengira semua pemimpin pasti bergelimang harta dan kekuasaan dalam semasa hidupnya, hal ini justru berbeda jauh dengan sifat Khulafaur Rasyidin yang memiliki gaya hidup sederhana dan jauh dari kata kemewahan.

Karena hati dan akhlak Khulafaur Rasyidin jauh lebih besar dari nama besarnya, jauh lebih luas dari wilayah kekuasaan dan taklukan-taklukannya, jauh lebih mulia dari kemuliaan yang diberikan orang-orang kepadanya. Hal ini bukan karena apa-apa, tetapi karena Khulafaur Rasyidin lebih mengedepankan ketakwaan di atas segalanya.

3)      Menjadi Pemimpin Yang Adil

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون

Artinya, “Sungguh Allah memerintahkan (kamu) untuk berbuat adil dan berbuat baik,” (Surat An-Nahl ayat 90)

Keadilan merupakan tonggak dari berjalanya sebuah pemerintahan yang dinamis, yang mana juga merupakan salah satu faktor untuk menciptakan kemaslahatan bagi ummat, hal ini yang diterapkan para Khulafaur Rasyidin pada masa kepemerintahanya demi menjaga keutuhan dan persatuan seluruh ummat dibalik ragam perbedaan yang ada pada zamanya.

Utamanya dalam keadilan yang mampu menyamaratakan dan menghilangkan stagment soal starta sosial yang kerap menyebabkan kesenjangan yang mana jika hal tersebut terus dibiarkan akan memicu konflik yang berketerusan antar sesama.

4)      Gemar Bershodaqoh

وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ، الَّذِينَ إِذا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلى مَا أَصابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلاةِ وَمِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُونَ “

Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami beri rezeki kepada mereka.” (QS. Al-Hajj ayat 34-35). Sedekah, baik yang wajib yaitu zakat, maupun sedekah sunnah merupakan salah satu pilar ajaran Islam.

Keutamaannya pun sangat banyak diantaranya adalah sedekah lebih ampuh digunakan sebagai ikhtiar tolak balak daripada sekadar doa. Dalam hal ini, Abu Hurairah ra sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Rasulullah saw pun mantap memilih sedekah untuk tolak balak daripada sekadar doa. Sedekah tidak membuat harta berkurang, justru dengan bershodaqoh mampu membuat harta kita semakin bertambah dan berkah, hal ini senada dengan sabda Muhammad SAW: Ma naqoso maalul bi sodaqoti bal yazdad, bal yazdad, bal yazdad. "Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, tetapi tambah, tambah, tambah. (Taba/Yaya)

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Awardee Turkiye Burslari 2020 Magister Tafsir of Sakarya UniversityMedia Pers PPI TurkiHidup kaya raya mati masuk surga

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image